Barista itu bernama Karina
6 min read

Barista itu bernama Karina

Bagian I: Perkenalan
Barista itu bernama Karina

Disclaimer: Ini adalah tulisan pertama yang ada di blog ini dan dipublikasi untuk publik sebagai gambaran akan tulisan-tulisan lain yang akan diterbitkan di blog ini. Untuk membaca tulisan lainnya, silahkan berlangganan menjadi anggota, pelajari selengkapnya disini.

Malam ini tanggal 25 Desember, dan beberapa teman sedang merayakan natal. Bandung hari ini gerimis, dan terasa lebih dingin dari biasanya. Saya berencana untuk menghabiskan malam natal di salah satu gerai Starbucks di dekat kos, selain karena sedang tidak memiliki persediaan kopi di kulkas, juga karena sedang bosan di kos.

Seperti biasa saya disambut hangat oleh penjaga kasir (atau PoS) atas kedatangan saya. "Halo kak, boleh di cek dulu suhu tubuhnya, ya?" ucap dia sambil tersenyum. Saya balas dengan senyum kembali—meskipun tertutup oleh masker—sebagai pengganti kata "boleh dong" lalu dilanjutkan dengan pertanyaan alat pembayaran yang ingin digunakan serta menu yang saya pilih.

Saya memilih menu favorit saya: Caffé Mocha.

Lalu saya duduk di dekat kasir untuk menunggu pesanan sambil memperhatikan gerak-gerik barista yang sedang menyiapkan minuman saya. Seorang barista yang menggunakan apron hijau, yang berarti masih tergolong dalam kategori Green Bean. Di apron tersebut terselip nametag hitam dengan tulisan 'Karina' berwarna putih.

Saya sudah mengetahui bila barista ini bernama Karina karena pernah dilayani oleh nya ketika dia sedang menjaga PoS, dan beberapakali melihat nametag nya secara tidak sengaja ataupun tidak sengaja. Karina hampir sama dengan Starbucks Partner lainnya: terkadang jaga PoS, terkadang jaga bar dan terkadang menjadi CS.

Namun ada hal menarik dari Karina ini, yang membedakannya dengan yang lain di mata saya, dan saya rasa itu adalah hal yang spesial.

Curi pandang

Minuman saya sudah siap ditandai dengan panggilan "atas nama kak Fariz" dari arah bar. Lalu saya mengambilnya, mengucapkan kata "terima kasih kak" secara samar-samar karena tertutup oleh masker, lalu duduk di tempat favorit saya yakni sebuah tempat di outdoor disamping jendela kaca.

Saya rasa setiap orang akan sadar bila dia merasa sedang 'diperhatikan' dan begitupula dengan saya. Saya melirik ke arah jendela dan mata saya langsung mengarah ke arah bar tanpa alasan. Mungkin karena sumbernya dari sana?

Atau, mungkin karena saya berharap bahwa sumbernya tersebut harusnya dari sana?

Ternyata harapan saya benar: arahnya dari sana, dan pelaku langsung buang muka mungkin berharap agar tidak ketahuan. Saya balas dengan buang muka juga sambil tersenyum heran, untuk menandakan bahwa saya sadar dan saya tahu.

Sejujurnya, aktivitas curi pandang tersebut tidak hanya terjadi satu kali. Bahkan saya yakin sudah berkali-kali. Dan bukan hanya dia yang sebagai pelaku, tapi saya juga.

Waktu sudah menunjukkan jam 19 lewat sekian menit, tandanya toko ini sebentar lagi akan tutup. Saya memesan kopi tambahan untuk di bawa pulang karena saya masih ada pekerjaan yang ingin diselesaikan malam itu juga—dan saya butuh kopi—sekaligus penasaran dengan seseorang yang sedang jaga di bar.

Ketika menunggu minuman saya tersedia, saya sengaja menunggunya disamping bar yang berarti tidak di duduk di kursi konsumen. Saya perhatikan gerak-gerik barista tersebut ketika sedang menyiapkan minuman saya, namun lebih dekat.

Setelah siap dibawa pulang, saya pun beranjak pulang. Dan ketika menutup pintu keluar, saya membalikkan badan kebelakang dengan harapan pelaku tersebut melakukan sesuatu yang harapkan: melihat saya pulang.

Dan keberuntungan pun datang 2x, mata kami saling bertatapan. Namun hanya sebentar, karena tidak mungkin saya menutup pintu selama 5 menit, kan? Lalu saya berjalan kaki meninggalkan toko tersebut untuk pulang, dengan perasaan senang. Mungkin sangat senang?

Ketika sampai di kosan, saya melanjutkan pekerjaan saya lalu mengambil kopi yang ada di shop bag berwarna coklat. Gelas kopi hari ini terasa berbeda, ada tulisan 'stay healthy kak ^^9' yang ditulis dengan indah menggunakan spidol warna hitam. Yang mana sesuatu yang lumayan janggal menurut saya karena sekarang Starbucks sudah menggunakan kertas struk.

Dan sayangnya, yang melayani saya di PoS bukanlah seseorang yang saya harapkan. Yang berarti, tulisan tersebut bukanlah ditulis oleh seseorang yang ada di bar. Seseorang yang curi-curi pandang ke saya.

Namun bukankah yang saya inginkan hanyalah kopi, bukan? Mengapa saya harus peduli dengan siapa yang menulis itu? Dan hei, bukankah itu hanya sebatas tulisan?

Hari itu berakhir terasa cukup aneh, ada sebuah ekspresi yang tidak saya mengerti namun terasa bukan pertama kali saya merasakannya. Entahlah, saya tidak ingin ambil pusing karena sudah pusing dengan sisa pekerjaan yang akhirnya selesai juga.

Yang saya yakin, ekspresi aneh tersebut terasa menyenangkan. Saya tidak tahu alasan pastinya mengapa, atau mungkin saya hanya tidak ingin mengakui bahwa perasaan tersebut berasal dari aktivitas saling pandang ketika saya pulang tadi.

Saya tersenyum kecil, sambil geleng-geleng kepala seperti sedang heran. Entah mensenyumkan apa. Lalu saya menutup hari dengan memejamkan mata, sambil mengucapkan "Karina... Karina..." karena saya mungkin sudah dibuat salah tingkah olehnya, yang menyebabkan perasaan aneh itu muncul.

YOLO

Setelah hari itu saya menjalani keseharian saya seperti biasa, ke Starbucks seperti biasa ketika sedang kesana, dan menutup hari seperti biasa.

Hari ini saya ke Starbucks lagi, saya biasanya ke Starbucks ketika koneksi internet di kos sedang bermasalah. Dan alasan mengapa memilih Starbucks adalah karena dekat dengan kos saya dan juga senang dengan suasananya yang cocok untuk bekerja ataupun untuk santai.

Namun ada alasan lain yang sebelumnya saya tidak ingin mengakuinya: karena di tempat itu ada sesuatu yang tidak ada di tempat lain. Dan sesuatu tersebut adalah Karina, lebih tepatnya gerak-gerik Karina, yang entah mengapa saya senang melihatnya, karena seperti memberikan energi tersendiri.

Setelah peristiwa curi-pandang-yang-ketahuan-ketika-pertama-kali tersebut, terjadi peristiwa curi pandang lainnya, dan sepertinya terasa lebih berbeda: saya lebih sering melihat keberadaan Karina, dari yang sebelumnya paling hanya ketika dia sedang di bar dan di PoS saja.

Dan saya memaksimalkan setiap momen yang ada untuk bisa saling menantap, karena entah mengapa saya sangat senang melihat matanya yang mungkin akan saya bahas nanti alasannya. Ketika saya sedang duduk diluar, saya duduk dekat dengan Karina. Ketika saya duduk di dalam, ada Karina juga sejauh mata memandang. Dan ketika saya sedang di lantai 2, disuatu momen ada seseorang yang ingin pergi ke rest room, saya menyempatkan waktu untuk memperhatikan siapa yang pergi kesana, dan ternyata benar saja bahwa orang itu adalah Karina.

Dan ternyata juga, apa yang saya harapkan terjadi: mata kami saling memandang, ketika saya sedang duduk di ruangan dekat rest room yang dibatasi oleh pintu yang terbuka, dan ketika Karina sedang ingin membuka pintu rest room yang tertutup.

Yang saya rasa itu bukanlah sebuah kebetulan.

Lalu hari itu berlalu, saya semakin penasaran dengan sosok Karina ini. Ketika di jalan pulang, saya memikirkan di sepanjang jalan untuk mengikuti akun Instagram nya Karina yang saya dapat dari hasil stalking saya yang mungkin terkesan creepy.

Yang sangat saya pikirkan adalah kondisi yang akan terjadi setelah aktivitas mengikuti tersebut: apakah saya akan merasa canggung ketika saya ke Starbucks lagi? Apakah orang ini akan berpikir bahwa saya adalah seseorang yang mengerikan? Apakah permintaan mengikuti saya akan diterima? Apakah dia akan mengikuti balik?

Dan yang paling inti adalah: apakah dia tahu bahwa orang yang mengirim permintaan mengikuti itu adalah seseorang yang sering dia temui dan perhatikan?

Atau mungkin dia sebenarnya peduli setan dengan saya, dan ternyata saya nya saja  yang ke-geeran? Dengan bermodal prinsip YOLO alias You Only Live Once, saya beranikan diri untuk menekan tombol 'Ikuti' di Instagram sambil harap-harap cemas.

Waktu terasa lama setelah saya melakukan itu, dan aktivitas saya melihat notifikasi di ponsel menjadi lebih sering. Bahkan saya sampai berkata "kayaknya hari ini terakhir gue ke sbux deh" ke teman saya yang ketika saya beritahu alasannya, dilanjutkan dengan saling tertawa keras menertawai tindakan saya yang terkesan nekat.

Bermenit-menit berlalu, notifikasi muncul dari Instagram.

Namun sayangnya bukan notifikasi yang saya cemaskan.

Notifikasi tersebut menjelaskan bahwa Karina mengirim permintaan mengikuti ke akun saya. Ya, waktu itu akun saya sengaja saya buat private sebelum mengirim permintaan mengikuti, karena sebuah alasan.

Ketika saya membuka notifikasi tersebut, langsung saya terima permintaannya, dan yang ternyata permintaan saya yang sebelumnya sudah diterima terlebih dahulu.

Tentu saja saya sangat senang, kamar kos kala itu berisik karena teriakan senang saya setelah peristiwa tersebut yang mungkin terkesan norak.

Namun ternyata, puncak dari bahagia nya bukanlah pada saat itu. Melainkan ketika sesuatu yang tidak pernah saya duga terjadi. Entah karena saya buruk dalam menduga atau karena hal lain, sesuatu tersebut tidak pernah sekalipun terlintas dalam pikiran saya.

Saya akan menceritakan sesuatu tersebut di bagian selanjutnya. Agar kamu tidak penasaran, sesuatu tersebut adalah sebuah 'pengakuan', yang berarti lanjutan dari tulisan ini akan berjudul 'Kebetulan, atau by design?' dengan excerpt 'Bagian II: Sebuah pengakuan'.

Catatan Redaksi

Setelah saya menerbitkan ini, saya tidak meminta izin ke Karina karena telah membawa nama dia disini, dan bahkan nama tersebut tidak saya samarkan beserta nama tempat dia bekerja, meskipun saya tidak menulisnya secara spesifik tempat persis toko nya.

Dan saya menyamarkan sedikit foto yang saya jadikan sebagai featured image dengan memberikan efek buram dan hitam-putih untuk mengurangi kejelasan terkait informasi yang bersangkutan dengan Karina, rekan kerjanya, dan tempat persisnya dia bekerja.

Di tulisan ini saya berbagi sedikit tentang awal mula saya kenal dengan Karina: dari melihat nametag, peristiwa curi pandang & saling pandang, sampai ke saling mengikuti di sebuah platform berbagi foto bernama Instagram.

Maksud saya membagikan ini adalah murni untuk bercerita, tidak ada maksud lain yang yaa kecuali tujuan utama dari hadirnya blog ini. Dan semoga tidak ada pihak yang keberatan ataupun merasa dirugikan karena terbitnya tulisan ini di blog ini, khususnya ke internet.

Enjoying these posts? Subscribe for more